![]() |
| Pantai Siung |
Pantai Siung terletak di sebuah wilayah terpencil di
Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus.
Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam
perjalanan. Menjangkau pantai ini dengan sepeda motor atau mobil menjadi
pilihan banyak orang, sebab memang sulit menemukan angkutan umum. Colt
atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus,
itupun mesti menunggu berjam-jam.
Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah
modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini. Maklum, banyak tantangan
yang mesti ditaklukkan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang
disertai turunan hingga panas terik yang menerpa kulit saat melalui
jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang-ladang palawija.
Semuanya menghadang sejak di Pathuk (kecamatan pertama di Gunung Kidul
yang dijumpai) hingga pantainya.
Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur
Yogyakarta - Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari - Baron dan
Baron - Tepus adalah jalur yang paling mudah diakses, jalan telah
diaspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta - Imogiri -
Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena banyak jalan
yang berlubang, sementara jalur Wonogiri - Gunung Kidul terlalu jauh
bila ditempuh dari kota Yogyakarta.
Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai
petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai
sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang
saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya
beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu.
Umumnya, mereka hanya mencari ikan di tepian.
Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo, diboyong
ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta
dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah
Winganun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi
orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempuh
penduduk setempat untuk bertahan hidup.
Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai
Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pecinta alam dari
Jepang memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di sebelah barat
pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 90-an,
berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali memanfaatkan
tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah,
popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi.
Kini, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai
Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing. Jalur itu
kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat
meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Banyak
pihak telah memanfaatkan jalur pemanjatan di pantai ini, seperti
sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah
bersiap melakukan panjat tebing ketika YogYES mengunjungi pantai ini.
Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah
ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ini,
tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk
melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak merusak
lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah
papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan
bagi yang sekedar ingin bermalam.
Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung
kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain
mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 - 15
orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati
keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin
dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan
untuk bermalam.
Sumber://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/siung/
kunjungi juga : Kuliner Istimewa Yogya
